Payung Teduh dan Kenangan Itu.

Parararam... Parararam... Parararam...
Aku ingin berjalan bersamamu...
Dalam hujan dan malam gelap...
Tapi aku tak bisa melihat matamu...

Gadis itu terpaku. Tidak biasanya lelakinya menyanyikan lagu sendu. Perasaan gadis itu campur aduk. Terharu dan sedih. Bingung.

Aku ingin berdua denganmu...
Di antara daun gugur...
Aku ingin berdua denganmu...
Tapi aku hanya melihat...
Keresahanmu...

Waktu berlalu. Perasaan berubah. Tapi tidak dengan gadis itu. Perasaannya masih sama. Hatinya masih sama. Tersakiti dan disakiti sudah biasa baginya. Tidak ada keresahan di matanya.

Aku menunggu dengan sabar...
Di atas sini, melayang-layang...
Tergoyang angin menantikan tubuh itu...

Apa yang selah dengan gadis itu? Salahkah ia menunggu lelakinya datang kembali? Salahkah ia berharap? Ia pikir ia telah dewasa dan tahu segalanya, tapi ada satu hal yang tidak ia tahu.

Aku ingin berdua denganmu...
Di antara daun gugur...
Aku ingin berdua denganmu...
Tapi aku hanya melihat...
Keresahanmu...

Diputarnya kembali lagu itu. Seiring lagu berputar, kenangan itu juga otomatis berputar di otaknya, dengan sangat jelas. Lalu tanpa ia sadari, ada air yang mengalir perlahan melewati pipinya, berakhir di dagunya.

Ia pikir ia telah dewasa dan tahu segalanya, tapi ada satu hal yang tidak ia tahu. Seseorang yang ia tunggu, lelakinya, pujaannya, tidak akan pernah datang kembali.

Maka diusapnya air matanya. Pagi sudah datang. Ia harus tersenyum, ia harus (terlihat) kuat. Ya, ini hanya persoalan waktu. Tidak, tidak ada yang tahu. Tidak ada yang tahu perasaan itu akan pudar atau malah semakin menguat.

Pagi ini harus ia lewati, karena malam sedang menanti. Malam, teman barunya kini. Padanya ia ceritakan semuanya. Hanya malam yang mengerti. Diputarnya kembali lagu itu. Lagu payung teduh. Bersama malam ia dengar lagu itu. Bersama malam ia putar kembali kenangan itu.




Tahun 2014.
Payung Teduh-Resah, skype, gitar, dulu, dan kenangan.

Komentar

Postingan Populer