Banda: The Dark Forgotten Trail

Waktu itu hari Minggu siang, saya berada di dalam mobil dalam perjalanan ke rumah saudara. Selama di perjalanan, saya mengecek timeline twitter kalau-kalau ketemu cuitan lucu dari akun-akun yang saya follow. Sampailah saya pada cuitan Mas Arie Kriting, seorang standup comedian. Beliau meretweet postingan dari LifeLike Pictures tentang film baru mereka yang berjudul "Banda: The Dark Forgotten Trail". Mulailah saya kepo tentang film ini, lalu buka youtube dan melihat trailernya. Dan ya, saya terpesona, pada trailernya karena pengambilan gambar yang bagus dan ditambah soundtrack film ini adalah lagu dari salah satu band indie favorite saya, yaitu Barasuara. Setelah menonton trailer film tersebut, saya berkata dalam hati "Fix, saya harus nonton film ini."

Sampailah hari ini, tanggal 8 Agustus 2017, saya bulatkan tekad untuk menonton film Banda di bioskop, sendirian (udah ngajak teman sih, tapi nggak ada yang mau. Mereka bilang film Indonesia kalau genrenya nggak horror tuh nggak seru) :). Sampai di bioskop, saya memesan tiket dan saya yang pertama yang menonton film tersebut pada hari itu, kursi-kursi di studio masih kosong. Pukul 14.15 WIB saya masuk studio, lalu saya lihat ada 2 orang (cewek dan cowok) yang sudah di dalam studio (disini saya lega karena nggak nonton sendirian, takut juga sih kalau sendirian hahaha). Menyusul 4 orang lagi (2 cewek dan 2 cowok). Ya, di dalam studio itu ada 7 orang, semua punya pasangan, kecuali satu orang :')

Film dimulai. Dibuka dengan narasi dari salah satu aktor terkenal, yaitu Reza Rahadian yang menjelaskan tentang sejarah jalur perdagangan rempah di dunia. Baru 1/4 part film berjalan, ada sepasang cewek dan cowok yang meninggalkan bangku mereka. Saya pikir si cowok mau menemani si cewek ke WC karena mungkin saja si cewek takut ke WC sendirian, tapi sampai film habis, mereka tidak balik hahaha. Disitu saya berpikir, oh mungkin mereka salah milih film hahaha.

Lanjut, film ini bercerita tentang betapa berharganya dulu biji pala bagi para pedagang bahkan lebih berharga dari sepeti emas. Banyak peperangan yang terjadi agar pulau Banda (pulau penghasil pala terbaik) dapat dikuasai. Dulu biji pala ini digunakan untuk mengawetkan makanan bagi para pelaut yang sedang berlayar sampai digunakan untuk mengawetkan mumi di mesir. Seiring perkembangan zaman, kulkas mulai ditemukan, lalu biji pala kini semakin dilupakan. Film ini juga bercerita tentang kepulauan Banda yang dihuni oleh banyak suku, mulai dari jawa, sumatera, dll. Konflik SARA yang sempat terjadi di Maluku juga tak lupa diceritakan di film ini. Banyak sekali sejarah yang diceritakan di film ini.

Bagian di film ini yang paling membuat saya "merinding" adalah bagian dimana ada seorang anak kecil yang menginjak dan menghentakkan kaki di lantai bertuliskan lambang VOC. Ia seperti berkata "kurang ajar kau, VOC!!" sambil menghentakkan kaki di lantai yang bertuliskan lambang VOC tersebut (hahaha perkataan anak tersebut hanya imajinasi saya). 
 sumber: google

Kemudian juga pada bagian anak-anak kecil yang menyanyikan lagu Indonesia Raya sambil mengayuh sampan bersama teman-temannya juga membuat saya terpesona. Ditambah, puisi dari Chairil Anwar yang berjudul Cerita Buat Dien Tamaela yang dibacakan oleh Reza Rahadian juga membuat saya "merinding".

Kesimpulannya, film ini sangat bagus untuk ditonton. Pengambilan gambarnya, audiovisualnya, narasinya, dan cerita sejarahnya yang langsung dari sejarawan adalah beberapa hal yang menurut saya mampu membuat film ini tidak bosan untuk ditonton meski genrenya adalah dokumenter. Besar harapan saya, kedepannya, lebih banyak lagi film-film dokumenter Indonesia yang membahas tentang sejarah Indonesia, karena bung Hatta pernah berkata "Melupakan masa lalu adalah sama dengan mematikan masa depan."

p.s. sempat bertanya-tanya, kapan ya lagu Nyala Suara muncul, eh ternyata pas penutup hahaha.


Selasa, 8 Agustus 2017 pukul 21.39 WIB
masih belum moveon dari film Banda dan ngulang-ngulang trailernya terus

Komentar

Postingan Populer